Selasa, 06 Juli 2010

tugas manajemen

Bab II

1.      Dikatakan bahwa penglolaan siswa sama dengan penciptaan lingkungan belajar. Apakah menurut saudara kedua pengertian ini memang sama?

2.      Dalam tahap persiapan, guru diminta memperkirakan waktu yang akan digunakan untuk menguasai bahan. Jika guru salah menerka dan berakibat pelajarannya hampir tidak selesai, bagaimanakah saran saudara kepada guru untuk mengambil tindakan?

3.      Bandingkan antara guru yang kreatif dan tidak kreatif dalam menciptakan lingkungan belajar!

4.      Kelas adalah tempat bagi para siswa untuk tumbuh dan berkembangnya potensi intelektual dan emosional. Menurut saudara bagaimana syarat-syarat kelas yang baik?

 

 

BAB III

1.      Apa yang dimaksud dengan pendekatan:

a.       Otoriter

b.      Intimidasi

c.       Permisif

d.      Buku masak

e.       Instriksional

f.       Pengubahan perilaku

g.      Proses kelompok

h.      Iklim Sosio-Emosional

i.        Eklektik

j.        Analitik Pluralistik

2.      Apa kelemahan dari masing-masing pendekatan tersebut di atas!

3.      Apa kelebihan dari masing-masing pendekatan tersebut di atas!

4.      Pendekatan apa yang ering digunakan oleh guru di kelas. Berikan contoh!

5.      Hambatan apa yang sering muncul dalam manajemen kelas!

 

 

 

 

 

 

BAB IV

1.      Jelaskan, mengapa guru merupakan unsur dominan dalam penciptaan sistem lingkungan yang menunjang proses pembelajaran!

2.      Jelaskan, mengapa tindakan manajemen merupakan terapi yang tepat dalam manajemen kelas!

3.      Kemukakan alasan-alasannya, mengapa seorang guru tidak boleh langsung menunjukkan kesalahan siswa, pada suatu pertemuan guru-siswa dalam membicarakan penyimpangan siswanya!

4.      Dilihat dari sifatnya, manajemen kelas dibedakan atas dua jenis manajemen kelas. Jelaskan jenis-jenis tersebut!

 

 

BAB V

  1. Jelaskan mengapa kondisi fisik tempat belajar berpengaruh penting terhadap hasil belajar!

 

  1. Gambarkan kemungkinan-kemungkinan pengaturan tempat duduk siswa, dan jelaskan kekuatan dan kelemahan masing-masing formasi tempat duduk!

 

JAWAB

 

 

BAB1                                                                                                             

1.Pengelolaan siswa adalah: pengaturan siswa di kelas oleh guru yang sedang mengajar sehingga setiap siswa mendapat pelayanan sesuai dengan kebutuhannya. Di dalam penciptaan suasana/lingkunngan belajar, guru juga harus mengusahakan agar setiap siswa mendapatkan pelayanan secara maksimal menurut kebutuhan. Dengan demikian, maka pengertian pengelolaan kelas, dapat dikatakan sama dengan penciptaan lingkungan belajar.

 

2.Apabila perkiraan guru terhadap penyediaan waktu ini kurang tepat, maka akan terjadi kekacauan di kelas yaitu bila guru mempunyai sisa waktu sehingga waktu tersebut dihabiskan dengan hal-hal yang kurang tepat. guru harus bisa menyampaikan pelajaran dengan merangkum materi yang akan disampaikan, sehingga tidak akan membuang-buang waktu dengan percuma, muridpun akan lebih mudah untuk memahami materi yang disampaikan oleh guru.

 

3.Guru yang kreatif akan melakukan hal-hal berikut:

a.       Merumuskan apa yang penting yang harus dimiliki oleh siswa. Itulah sebabnya guru dapat merumuskan Tujuan Instruksional Khusus sebagai criteria. Tentang pekerjaan ini sudah tidak asing lagi bagi guru-guru sekarang karena masalah aspek kognitif, afektif dan psikomotor sudah menjadi garapannya setiap kali membuat satuan pelajaran.

b.      Merancang bantuan-bantuan yang cocok yang dapat diberikan kepada siswa. Dalam hal ini guru dituntut dapat mengadakan pertimbangan (judgement) berdasarkan atas materi yang akan diajarkan dan keadaan siswa yang dihadapi.

1)      Apakah pelajaran yang akan diberikan memerlukan alat khusus?

2)      Apakah ada siswa yang kira-kira akan mengalami kesulitan? Jika ada, bagian mana dari materi yang menimbulkan kesulitan, termasuk mana jenis kesulitan itu? Bagaimana alternatif cara yang dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan itu?

3)      Apakah sumber bahan yang dapat digunakan untuk memperkaya konsep?

 

c.       Merancang waktu yang sesuai dengan topik.

Apabila perkiraan guru terhadap penyediaan waktu ini kurang tepat, maka akan terjadi kekacauan di kelas yaitu bila guru mempunyai sisa waktu sehingga waktu tersebut dihabiskan dengan hal-hal yang kurang tepat.

 

d.      Memperhatikan keragaman siswa sehingga guru memperlakukan mereka dengan cara dan waktu yang berbeda. Untuk keperluan ini ppertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab antara lain:

1)      Siapakah di antara anak-anak kelas yang sering ketinggalan pelajaran, berapa menit ketinggalannya, dengan cara apa mereka lebih mudah menangkap pelajaran?

2)      Siapakah di antara anak-anak satu kelas yang kira-kira akan lebih cepat menguasai bahan pelajaran dibandingkan dengan yang lain?

Ada berapa orangkah itu? Apakah mereka ini dapat ditunjuk sebagai tutor dan dapat memberi bantuan kawannya?

Pertanyaan ini akan dicari jawabnya untuk membantu guru mempersiapkan penyediaan program pengayaan dan penunjukkan tutor sebaya.

 

e.       Mengadakan pengukuran terhadap berbagai pencapaian siswa sebagai hasil belajarnya. Dalam hal ini guru harus menentukan standar apa yang akan digunakan, standar mutlak (Criterian Referenced) ataukah standar relative (Norm Referenced).

Perlu diingat sekali lagi bahwa apabila guru menggunakan standar mutlak dalam penilaian, sebagai criteria keberhasilan adalah tujuan yang telah ditetapkan dalam tahap pre-conditions.

 

4.Terdapat beberapa syarat yang perlu diupayakan agar kelas nyaman dan menyenangkan berikut ini.

a.       Tata ruang kelas

Pada dasarnya system pembelajaran yang dianut di sekolah dasar sangat tergantung pada pendekatan atau metode yang digunakan. Metode ceramah, system yang digunakan adalah system klasikal; metode eksperimen, diskusi kelompok, maka system yang digunakan adalah non-klasikal. Dalam penataan ruang kelas, lemari kelas dapat ditempat di samping papan tulis atau di samping meja guru. Lemari kelas tambahan dapat diletakkan di belakang kelas. Lemari tambahan tersebut akan lebih baik bila terbuat dari kaca, dan hal ini akan dipergunakan untuk menyimpan piagam, vandel, dan kepustakaan sekolah.

b.      Menata perabot kelas

Perabot kelas adalah segala sesuatu perlengkapan yang harus ada dan diperlukan di kelas. Perabot kelas meliputi atau dapat berupa:

1)      papan tulis dan penghapusnya

2)      meja, kursi guru

3)      meja, kursi siswa

4)      almari kelas

5)      jadwal pelajaran

6)      papan absensi

7)      daftar piket kelas

8)      kalender pendidikan

9)      gambar Presiden dan Wakli Presiden serta lambang Garuda Pancasila

10)  tempat cuci tangan dan lap tangan

11)  tempat sampah

12)  sapu lidi, sapu ijuk, dan sapu bulu ayam

13)  gambar-gambar lain/alat peraga

14)  kapur/spidol

 

 

BAB III

 1.        a. Pendekatan Otoriter

Pendekatan otoriter memandang bahwa manajerial kelas sebagai suatu pendekatan pengendalian perilaku peserta didik oleh guru. Pendekatan ini menempatkan guru dalam peranan menciptakan dan memelihara ketertiban di kelas dengan menggunakan strategi pengendalian. Tujuan guru yang utama ialah mengendalikan perilaku peserta didik. Guru bertanggung jawab mengendalikan perilaku peserta didik karena gurulah yang paling mengetahui dan berurusan dengan peserta didik. Tugas ini sering dilakukan guru dengan menciptakan dan menjalankan peraturan dan hukuman.

b.Pendekatan Intimidasi

Pendekatan intimidasi adalah pendekatan yang memandang manajemen kelas sebagai proses pengendalian perilaku peserta didik. Berbeda dengan pendekatan otoriter yang menekankan perilaku guru yang manusiawi, pendekatan intimidasi menekankan pada perilaku guru yang mengintimidasi. Bentuk-bentuk intimidasi itu seperti hukuman yang kasar, ejekan, hinaan, paksaan, ancaman, menyalahkan. Peranan guru adalah memaksa peserta didik berperilaku sesuai dengan perintah guru.

c.Pendekatan Permisif

Pendekatan permisif adalah pendekatan yang menekankan perlunya memaksimalkan kebebasan siswa. Tema sentral dari pendekatan ini adalah: apa, kapan, dan dimana juga guru hendaknya membiarkan peserta didik bertindak bebas sesuai dengan yang diinginkannya. Peranan guru adalah meningkatkan kebebasan peserta didik, sebab dengan itu akan membantu pertumbuhannya secara wajar. Campur tangan guru hendaknya seminimal mungkin, dan berperan sebagai pendorong mengembangkan potensi peserta didik secara penuh.

d.Pendekatan Buku Masak

Pendekatan buku masak adalah pendekatan berbentuk rekomendasi berisi daftar hal-hal yang harus dilakukan atau yang tidak harus dilakukan oleh seorang guru apabila menghadapi berbagai tipe masalah manajemen kelas. Daftar tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan ini biasanya dapat ditemukan dalam artikel: Tiga puluh cara untuk memperbaiki perilaku peserta didik, misalnya karena daftar ini sering merupakan resep yang cepat dan mudah, pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan “buku masak”.

e.Pendekatan Instruksional

Pendekatan instruksional adalah pendekatan yang mendasarkan kepada pendirian bahwa pengajaran yang dirancang dan dilaksanakan dengan cermat akan mencegah timbulnya sebagian besar masalah manajerial kelas. Pendekatan ini berpendapat bahwa manajerial yang efektif adalah hasil perencanaan pengajaran yang bermutu. Dengan demikian peranan guru adalah merencanakan dengan kebutuhan dan kemampuan setiap peserta didik.

f.Pendekatan Pengubahan Perilaku

Pendekatan pengubahan perilaku didasarkan pada prinsip-prinsip psikologi behaviorisme. Prinsip utama yang mendasari pendekatan ini adalah perilaku merupakan hasil proses belajar. Prinsip ini berlaku baik bagi perilaku yang sesuai maupun perilaku yang menyimpang

g.Pendekatan Iklim Sosio-Emosional

Pendekatan iklim sosio-emosional dalam manajemen kelas berakar pada psikologi penyuluhan klinikal, dan karena itu memberikan arti yang sangat penting pada hubungan antar pribadi. Pendekatan ini dibangun atas dasar asumsi bahwa manajemen kelas yang efektif (dan pengajaran yang efektif) sangat tergantung pada hubungan yang positif antara guru dan peserta didik. Guru adalah penentu utama atas hubungan antar dan iklim kelas. Oleh karena itu, tugas pokok guru dalam manajemen kelas adalah membangun hubungan antar pribadi yang positif dan meningkatkan iklim sosio-emosional yang positif pula.

h.Pendekatan Proses Kelompok

Premis utama yang mendasari pendekatan  proses kelompok didasarkan pada asumsi-asumsi barikut: 1) kehidupan sekolah berlangsung dalam lingkungan kelompok, yakni kelompok kelas, 2) tugas pokok guru adalah memnciptakan dan membina kelompok kelas yang efektif dan produktif, 3) kelompok kelas adalah suatu system social yang mengandung cirri-ciri yang terdapat pada semua system social, 4) pengelolaan kelas oleh guru adalah menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang menunjang terciptanya suasana belajar yang menguntungkan.

i.Pendekatan Eklektik

Wilford A. Weber menyatakan bahwa pendekatan dengan cara menggabungkan semua aspek terbaik dari berbagai pendekatan manajemen kelas untuk menciptakan suatu kebulatan atau keseluruhan yang bermakna, yang secara filosofis, teoritis, dan/atau psikologis dinilai benar, yang bagi guru merupakan sumber pemilihan perilaku pengelolaan tertentu yang sesuai dengan situasi disebut pendekatan eklektik (Wilford A. Weber, 1986). Dua syarat yang perlu dikuasai oleh guru dalam menerapkan pendekatan eklektik yaitu: 1) menguasai pendekatan-pendekatan manajemen kelas yang potensial, seperti pendekatan Pengubahan Perilaku, Penciptaan Iklim Sosio-Emosional, Proses Kelompok, dan 2) dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai dengan baik dalam masalah manajemen kelas ( M. Endang dan T. Raka Joni, 1983: 43)

j.Pendekatan Analitik Pluralistik

Berbeda dengan pendakatan eklektik, pendekatan analitik pluralistik memberi kesempatan kepada guru memilih strategi manajemen kelas atau gabungan beberapa strategi dari berbagai pendekatan manajemen yang dianggap mempunyai potensi terbesar berhasil menanggulangi masalah manajemen kelas dalam situasi yang telah dianalisis. Guru yang bijaksana menghargai pendekatan dan strategi manajemen kelas yang mempunyai konsep yang baik. Dengan demikian, pendekatan analitik pluralistik memperluas jangkauan pendekatan. Pendekatan  analitik pluralistik berupa pemilihan diantara berbagai strategi manajemen kelas suatu atau beberapa strategi yang mempunyai kemungkinan menciptakan dan menampung kondisi-kondisi yang memberi kemudahan kepada pembelajaran yang efektif  dan efisien.

 

2.a.Pendekatan otoriter janganlah dipandang sebagai strategi yang bersifat mengintimidasi. Guru yang mempraktekkan pendekatan otoriter tidak memaksakan kepatuhan, merendahkan peserta didik, dan tidak bertindak kasar. Guru otoriter bertindak untuk kepentingan peserta didik dengan menerapkan disiplin yang tegas.

b.Kendatipun pendekatan intimidasi telah dipakai secara luas dan ada manfaatnya, terdapat kecaman terhadap pendekatan ini. Penggunaan pendekatan ini hanya bersifat pemecahan masalah secara sementara dan hanya menangani gejala-gejala masalahnya, bukan masalahnya itu sendiri. Kelemahan lain yang timbul dari penerapan pendekatan ini adalah tumbuhnya sikap bermusuhan dan hancurnya hubungan antara guru dan peserta didik.

c. Pendekatan permisif sedikit penganjurannya. Pendekatan ini kurang menyadari bahwa sekolah dan kelas adalah sistem sosial yang memiliki pranata-pranata sosial. Dalam sistem sosial para anggotanya, dalam hal ini guru dan peserta didik menyandang hak dan kewajiban. Mereka diharapkan bertindak sesuai dengan hak dan kewajibannya dan diterima oleh semua pihak. Perbuatan yang bebas tanpa batas akan memerkosa dan mengancam hak-hak orang lain.

d.Pendekatan buku masak tidak dijabarkan atas dasar konsep yang jelas, sehingga tidak ditemukan prinsip-prinsip yang memungkinkan guru menerapkan secara umum pada masalah-masalah lain. Pendekatan ini cenderung menumbuhkan sikap reaktif pada diri guru dalam memanajemeni kelas. Dengan kata lain, guru biasanya memberikan reaksi terhadap masalah tertentu dan sering mempergunakan dalam jangka pendek. Kelemahan lain pendekatan buku masak adalah apabila resep tertentu gagal mencapai tujuan, guru tidak dapat memilih alternatif lain, karena pendekatan ini bersifat mutlak. Guru yang bekerja dengan kerangka acuan buku masak akan merugikan diri sendiri dan tidak mungkin menjadi manajer kelas yang efektif.

e.Para penganjur pendekatan instruksional dalam manajemen kelas cenderung memandang perilaku instruksional guru mempunyai potensi mencapai dua tujuan utama manajemen kelas. Tujuan itu adalah: 1) mencegah timbulnya masalah manajerial, dan 2) memecahkan masalah manajerial kelas. Cukup banyak contoh yang membuktikan bahwa kegiatan belajar-mengajar yang direncanakan dan dilaksanakan dengan baik adalah merupakan faktor utama dalam pencegahan timbulnya masalah manajemen kelas.

f. Penganjur pendekatan ini berpendapat bahwa seorang peserta didik berperilaku menyimpang adalah disebabkan oleh salah satu dari dua alasan berikut: 1) peserta didik telah belajar berperilaku yang tidak sesuai, atau 2) peserta didik tidak belajar berperilaku yang sesuai. Pendekatan pengubahan perilaku dibangun atas dasar dua asumsi utama yaitu: 1) empat proses dasar belajar, 2) pengaruh kejadian-kejadian dalam lingkungan. Tugas guru adalah menguasai dan menerapkan empat prinsip dasar belajar. Prinsip tersebut adalah penguatan positif, hukuman, penghentian, dan penguatan negatif.

g.Pendekatan ini dibangun atas dasar asumsi bahwa manajemen kelas yang efektif (dan pengajaran yang efektif) sangat tergantung pada hubungan yang positif antara guru dan peserta didik. Guru adalah penentu utama atas hubungan antar dan iklim kelas. Oleh karena itu, tugas pokok guru dalam manajemen kelas adalah membangun hubungan antar pribadi yang positif dan meningkatkan iklim sosio-emosional yang positif pula.

h.Komunikasi, baik verbal maupun non-verbal adalah dialog antara anggota-anggota kelompok. Komunikasi mencakup kemampuan khas manusia untuk saling memahami buah pikiran dan perasaan masing-masing. Komunikasi yang efektif berarti menerima pesan menafsirkan dengan tepat pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan. Oleh karena itu, tugas rangkap guru adalah membuka saluran komunikasi sehingga semua siswa menyatakan buah pikiran dan perasaanya dengan bebas, menerima buah pikiran dan perasaan siswa.

i. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku dipilih, misalnya bila tujuan tindakan manajemen kelas yang akan dilakukan adalah menguatkan tingkah lakupeserta didik yang baik dan/atau menghilangkan perilaku peserta didik yang kurang baik; pendekatan Penciptaan Iklim Sosio-Emosional dipergunakan apabila sasaran tindakan manajemen kelas adalah peningkatan hubungan antar pribadi guru dan peserta didik; sementaa itu pendekatan Proses Kelompok dianut bila seorang guru ingin kelompoknya melakukan kegiatan secara produktif.

j Pendekatan  analitik pluralistik berupa pemilihan diantara berbagai strategi manajemen kelas suatu atau beberapa strategi yang mempunyai kemungkinan menciptakan dan menampung kondisi-kondisi yang memberi kemudahan kepada pembelajaran yang efektif  dan efisien.

 

3.a. Pendekatan otoriter menawarkan lima strategi yang dapat diterapkan dalam memanajemeni kelas yaitu (1) menetapkan dan menegakkan peraturan, (2) memberikan perintah, pengarahan, dan pesan, (3) menggunakan teguran, (4) menggunakan pengendalian dengan mendektai, dan (5) menggunakan pemisahan dan pengucilan.

b. Pendekatan intimidasi berguna dalam situasi tertentu dengan menggunakan teguran keras. Teguran keras adalah perintah verbal yang keras yang diberikan pada situasi tertentu dengan maksud untuk segera menghentikan perilaku siswa yang penyimpangannya berat. Misal, guru memergoki dua peserta didik berkelahi.kemudian guru bertindak “berhenti” dengan harapan setelah mendengar suara guru kedua peserta didik itu akan berhenti berkelahi. Kehadiran guru membuat mereka takut, takut karena mereka membayangkan akan memperoleh hukuman yang sangat berat.

c. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa pendekatan permisif dalam bentuknya yang murni tidak produktif diterapkan dalam situasi atau lingkungan sekolah dan kelas. Namun disarankan agar guru memberikan kesempatan kepada para peserta didik melakukan urusan sendiri apabila hal itu berguna. Urusan itu seperti para peserta didik memperoleh kesempatan secara psikologis, memilkul risiko yang aman, mengatur kegiatan sekolah sesuai cakupannya, mengembangkan kemampuan memimpin diri sendiri, disiplin sendiri, dan tanggung jawab sendiri. Dengan demikian, guru harus dapat menemukan cara untuk memberikan kebebasan sebesar mungkin kepada peserta didik di satu sisi, di sisi lain tetap dapat mengendalikan kebebasan itu dengan penuh tanggung jawab.

d. Karena memiliki daftar tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan. Biasanya dapat ditemukan dalam artikel: Tiga puluh cara untuk memperbaiki perilaku peserta didik, misalnya karena daftar ini sering merupakan resep yang cepat dan mudah, pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan “buku masak”.

e. Pendekatan ini berpendapat bahwa manajerial yang efektif adalah hasil perencanaan pengajaran yang bermutu. Dengan demikian peranan guru adalah merencanakan dengan kebutuhan dan kemampuan setiap peserta didik.

f. Pendekatan pengubahan perilaku dibangun atas dasar dua asumsi utama yaitu: 1) empat proses dasar belajar, 2) pengaruh kejadian-kejadian dalam lingkungan. Tugas guru adalah menguasai dan menerapkan empat prinsip dasar belajar. Prinsip tersebut adalah penguatan positif, hukuman, penghentian, dan penguatan negatif.

g. Pendekatan ini dibangun atas dasar asumsi bahwa manajemen kelas yang efektif (dan pengajaran yang efektif) sangat tergantung pada hubungan yang positif antara guru dan peserta didik. Guru adalah penentu utama atas hubungan antar dan iklim kelas. Oleh karena itu, tugas pokok guru dalam manajemen kelas adalah membangun hubungan antar pribadi yang positif dan meningkatkan iklim sosio-emosional yang positif pula.

h. Premis utama yang mendasari pendekatan  proses kelompok didasarkan pada asumsi-asumsi barikut: 1) kehidupan sekolah berlangsung dalam lingkungan kelompok, yakni kelompok kelas, 2) tugas pokok guru adalah memnciptakan dan membina kelompok kelas yang efektif dan produktif, 3) kelompok kelas adalah suatu system social yang mengandung cirri-ciri yang terdapat pada semua system social, 4) pengelolaan kelas oleh guru adalah menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang menunjang terciptanya suasana belajar yang menguntungkan.

i. Kemampuan guru memilih strategi manajemen kelas yang sangat tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah manajemen kelas yang dihadapinya. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku dipilih, misalnya bila tujuan tindakan manajemen kelas yang akan dilakukan adalah menguatkan tingkah lakupeserta didik yang baik dan/atau menghilangkan perilaku peserta didik yang kurang baik; pendekatan Penciptaan Iklim Sosio-Emosional dipergunakan apabila sasaran tindakan manajemen kelas adalah peningkatan hubungan antar pribadi guru dan peserta didik; sementaa itu pendekatan Proses Kelompok dianut bila seorang guru ingin kelompoknya melakukan kegiatan secara produktif.

j. Berbeda dengan pendakatan eklektik, pendekatan analitik pluralistik memberi kesempatan kepada guru memilih strategi manajemen kelas atau gabungan beberapa strategi dari berbagai pendekatan manajemen yang dianggap mempunyai potensi terbesar berhasil menanggulangi masalah manajemen kelas dalam situasi yang telah dianalisis. Guru yang bijaksana menghargai pendekatan dan strategi manajemen kelas yang mempunyai konsep yang baik. Dengan demikian, pendekatan analitik pluralistik memperluas jangkauan pendekatan. Pendekatan  analitik pluralistik berupa pemilihan diantara berbagai strategi manajemen kelas suatu atau beberapa strategi yang mempunyai kemungkinan menciptakan dan menampung kondisi-kondisi yang memberi kemudahan kepada pembelajaran yang efektif  dan efisien.

 

4. Pendekatan Analitik Pluralistik, contoh: guru bisa menangani masalah yang terjadi di dalam kelas dengan mudah, seperti anak yang nakal, berkelahi, pemalu dll, karena dalam pendekatan analitik pluralistik guru bisa memilih strategi manajemen kelas yang dianggapnya paling berpotensi untuk pembelajaran.

 

5. Dalam pelaksanaan manajemen kelas akan ditemui berbagai faktor penghambat. Hambatan tersebut bisa datang dari guru sendiri, dari peserta didik, lingkungan keluarga, ataupun karena faktor fasilitas.

 

BAB IV

1. Manajemen kelas, dikatakan menarik, karena selain memerlukan kemampuan pribadi serta ketekunan menghadapinya disatu sisi, di sisi lain calon guru, guru, dan guru yang berpengalaman sekalipun akan bergelut dengan manajemen kelas agar terselenggara proses pembelajaran yang efektif demi tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, guru mempunyai peranan yang besar dalam menentukan keberhasilan manajemen kelas maupun manajemen pembelajaran. Penciptaan sistem lingkungan yang merangsang anak untuk belajar sangat diperlukan karena hanya dengan situasi belajar seperti itulah tujuan akan tercapai.

Berdasar penjelasan tersebut di atas, mengisyaratkan bahwa guru harus memiliki kemampuan profesional termasuk kemampuan memanajemeni kelas. Untuk memiliki kemampuan manajemen kelas guru antara lain harus memahami prosedur dan rancangan prosedur manajemen kelas.

 

2. Karena tindakan manajemen kelas merupakan suatu tindakan yang menunjuk kepada kegiatan-kegiatan yang berusaha menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses pembelajaran yang efektif. Apabila seorang guru melakukan kegiatan manajemen kelas dengan atau melalui langkah-langkah tertentu, berarti guru tersebut sudah melakukan kegiatan manajemen kelas berdasar prosedur manajemen kelas. Prosedur manajemen kelas adalah serangkaian langkah kegiatan manajemen kelas yang dilakukan bagi terciptanya kondisi optimal serta mempertahankan kondisi optimal tersebut supaya proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

 

3. Seorang guru tidak harus secara langsung menunjukkan kesalahan siswa pada saat itu juga, karena akan menimbulkan rasa malu pada diri siswa terhadap teman-temannya, untuk itu diperlukan interaksi positif antara guru dan peserta didik,  proses pembelajaran terjadi apabila ada dua kesadaran, kesadaran guru dan peserta didik bertemu. Kurangnya kesadaran peserta didik akan menumbuhkan sikap suka marah, mudah tersinggung, yang pada gilirannya memungkinkan peserta didik melakukan tindakan-tindakan yang kurang terpuji yang dapat mengganggu kondisi optimal dalam rangka pembelajaran. Untuk meningkatkan kesadaran peserta didik, maka kepada mereka perlu dilaksanakan hal-hal berikut: 1) memberitahukan akan hak dan kewajiban sebagai peserta didik, 2) memperhatikan kebutuhan, keinginan, dan dorongan para peserta didik, 3) menciptakan suasana saling pengertian, saling menghormati, dan rasa keterbukaan antara guru dan para peserta didik.

 

4.a. Prosedur Manajemen Kelas

Guru merupakan kunci keberhasilan dalam pengelolaan proses pembelajaran, sementara itu manajemen kelas merupakan salah satu aspek dari pengelolaan proses pembelajaran yang paling rumit tetapi menarik perhatian. Rumit, karena manajemen kelas itu memerlukan berbagai kriteria keterampilan, pengalaman, bahkan kepribadian serta sikap dan nilai seorang guru. Dua guru yang sama-sama pandai dan berpengalaman tetapi berbeda dalam kepribadian, sikap dan nilai termasuk cara menyikapi subjek didik akan lain situasi belajarnya yang dihasilkan oleh kedua orang guru tadi. Disinilah letaknya seni dalam mengelola proses pembelajaran.

b. Rancangan Prosedur Manajemen Kelas

Pemilikan pengetahuan dan keakraban seorang guru terhadap masalah manajemen kelas baik dimensi preventif maupun dimensi kuratif serta  menguasai prosedur masing-masing, merupakan dasar yang kuat untuk menyusun rancangan prosedur manajemen kelas.

Rancangan dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis berdasarkan pemikiran yang rasional untuk mencapai tujuan tertentu. Menyusun rancangan prosedur manajemen kelas nerarti guru menentukan serangkaian kegiatan tentang langkah-langkah manajemen kelas yang disusun secara sistematis berdasarkan pemikiran yang rasional untuk tujuan menciptakan kondisi lingkungan yang optimal bagi berlangsungnya kegiatan belajar siswa.

 

BAB VI

1. Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap ­hasil pembelajaran. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat akan mendukung meningkatnya intensitas pembelajaran siswa dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Guru harus dapat menciptakan lingkungan kelas yang membantu perkembangan pendidikan peserta didik. Melalui teknik motivasi yang akurat, guru dapat memberikan kontribusi iklim kelas yang sehat. Kondisi dan lingkungan hendaknya menjadi perhatian dan kepedulian guru agar siswa dapat belajar secara optimal.

IMG_0011 


2.

 

 

 

 

Tempat duduk siswa pola berderet atau berbaris

keunggulan: pengawasan guru bisa merata dalam satu ruangan

kelemahan : siswa yang berada di belakang sulit untuk melihat ke depan karena terhalang posisi temannya

IMG_0012
 

 


                                                                 

 

 

 

 

Tempat duduk siswa pola berkelompok

keunggulan: komunikasi antar siswa bisa terjadi dengan baik dalam proses pembelajaran, bisa bekerjasama dalam menyelesaikan tugas kelompok

kelemahan  : pengawasan guru tidak merata karena posisi tempat duduk yang tidak beraturan

 

 

 

 

 

 

 


Tempat duduk siswa tapal kuda atau pola setengah lingkaran

keunggulan: pengawasan guru dapat merata, pandangan siswa ke arah depan tidak terhalang temannya

kelemahan  : hanya bisa dilakukan bila jumlah siswa sedikit

IMG_0014
 

 

 

 

 

 

 

 


Tempat duduk siswa pola lingkaran dan persegi

keunggulan: pengawasan guru bisa merata pada seluruh siswa

kelemahan  :hanya bisa dilakukan bila ada 2 orang guru

 

IMG_0014,IMG_0014,IMG_0014
 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar